Sahabat Sejati
Hari ini matahari menyengat saat aku keluar dari pintu rumahku, aku bergegas menuju sekolah, aku selalu pergi ke sekolah dengan menaiki sepeda karena sekolahku yang jauh dari rumah. Biasanya jika aku berangkat sekolah aku mampir sejenak ke toko ibu agung untuk menitipkan pisang goreng buatan ibuku ke tokonya. Ibu ku membuat menjual pisang goring untuk menyekolahkan ku, aku hanya tinggal berdua di rumah karenan ayahku yang sudah lama pergi karena sakit jantung dan adikku yang meninggal saat ia lahir, aku dan ibu selalu berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup dan selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Setelah aku menitipkan pisang goreng ke toko bu Agung aku melajutkan perjalanan menuju sekolahku.
Saat di dalam kelas suasana pun sangat ramai karena saat itu bu Rani guru BK belum datang, di kelas ini aku duduk di barisan paling belakang dekat jendela, aku duduk sendiri Karena tidak ada temanku yang mau duduk dengan ku karenan kata mereka aku ini bau, kotor, korengan dan miskin. aku tidak perduli dengan apa yang mereka katakana. Aku hanya memikirkan pelajaran agar aku bisa mendapatkan nilai yang bagus untuk memperoleh beasiswa.
“assalammualikum wr.wb?” bu Rani pun datang bersama dengan siswa baru.
“waalaikumsalam” teriak siwsa-siswi dengan penuh semangat.
“hari ini ibu membawakan teman baru untuk kalian, dia adalah siswa pindahan dari sekolah jayawijaya bandung, tolong perkenalkan siapa nama mu nak” ucap bu Rani
“nama ku Jessi Irawan, dulu aku sekolah di jayawijaya bandung, aku pindah karena ayahku yang di pindah tugaskan ke Jakarta”. Jelas rani dengan penuh senyuman.
“baiklah Jessi selamat datang di sekolah ini semoga kamu cepat beradaptasi dengan teman dan lingkungan di sini, silahkan kamu duduk bersama Ira ” kata bu Rani.
Memang saat ini hanya bangku di sebelahku yang kosong, jessi pun berjalan menuju mejaku yang kini akan kami gunakan bersama.
“hai… siapa nama kamu?” sapa jessi dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“hai jessi… aku ira ” jawabku sambil membalas uluran tangannya.
Detik demi detik pun berlalu, lonceng pun berbunyi tiga kali dengan keras menandakan waktunya siswa-siswi telah selesai melakukan kegiatan sekolah.
“Ra biasanya kau pulang dengan siapa?”Tanya Jessi.
“Biasanya aku pulang sendiri dengan sepedaku” jawab Ira
“oohh kamu mengayuh sepeda untuk pergi dan pulang sekolah ya?”
“ya, karena rumahku yang jauh”
“memangya rumahmu dimana?”
“rumahku di jalan jambu VI tanah tinggi”
“wah ternyata kita searah, kalau rumahku di jalan jambu XII. Tapi apakan kau tidak lelah tiap hari harus mengayhu sepda sejauh itu?”
“tidak, aku sudah biasa mengayuh sepada dengan jarak yang jauh”
Tin… Tin.. klakson pun berbunyi keras dan ternyata mobil jessi lah yang datang dengan supir pribadinya.
“nah itu dia pak budi sudah menjemputku, sebaiknya aku harus cepat pulang ra”
“baiklah, hati hati ya jess”
“kau juga ya ra, dah… dah…” berjalan sambil melambaikan tangannya.
Jessi pun menaiki mobilnya dan pulanglah ia, aku pun harus segera pulang dan mengambil keranjang bekas pisang goreng di toko bu agung.
Sesampainya di rumah aku lekas membantu ibu dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru disekolah. Tak terasa aku telah menyelesaikan semua tugas dan ku lihat jam ternyata sudah jam 10.00 malam, aku cepat bergegas untuk tidur agar esok hari tidak terlambat.
KriNg…. KriNg… KriNg…. Bunyi jam beker pun tepat di angka 04.30 aku cepat cepat mengambil wudhu dan sholt subuh, setelah itu aku cepat cepat membantu ibu menggoreng pisang untuk dijual. Dan ku liahat ibu masih berbaring di tempat tidurnya.
“Bu.. ibu ada apa dengan mu? Mengapa badan ibu panas seperti ini? Sepertinya ibu sakit ya?” Tanyaku dengan khawatirnya
“tidak nak, ibu hanya kelelahan saja” jawab ibu kepadaku
“sepertinya aku harus cepat bawa ibu ke dokter”
“tidak usah ra, ibu hanya perlu instirahat. Sebaiknya kamu cepat bersiap untuk berangkat sekolah dan tolong bilang bu Agung ibu hari ini tidak bisa menitipkan pisang goeing ketokonya”
“aku tidak tega meninggalkan ibu di rumah sendirian, aku tidak usah sekolah saja ya bu biar aku jagain ibu”
“tidak nak kau harus sekolah apapun yang terjadi, ayo.. cepat”
“baiklah bu”
Aku pun bersiap siap untuk berangkat sekolah, Berangkatlah aku menuju sekolah dan tak lupa menyampaikan pesan ibu kepada ibu Agung.
Sesampainya disekolah aku bergegas masuk kelas dan di saat ku sedang duduk berdiam diri datanglah jessy dan berkata kepadaku
“ra ada apa dengan diri kamu? Kok aku liat dr aku masuk kelas kau bengong terus? Apa ada masalh ya dirumahmu?”
“tidak Jess aku hanya sedang bengong saja”
“ohh begitu baiklah…”
Hari ini pun berlalu begitu saja. akupun pulang dengan segera, sesampainya dirumah aku melihat ibu yang sedang batu batuk dan keluar darah, aku langsung menghampirinya.
“ibu… mengapa engkau seperti ini? Aku harus bawa ibu ke dokter”
“ohokk ohokk.. tak usah nak, lagi lagi pula ibu tidak punya uang untuk pergi kedokter” jawab ibu dengan batuk batuknya.
“tapi ibu…” belum selesai ucapanku sudah di potong ibu dahulu.
“sudahlah nak ibu hanya perlu istirahat dengan baik, jangan khawatirkan ibu” menenangkanku.
Akupun masuk kamar melihat apakan ada uang dicelenganku untuk membawa ibu kedokter, dan aku buka celenganku hanya ad receh dan ribuan yang jumlahnya hanya ada Rp.10.500,- untuk menghilangkan rasa gundah ku aku segera ambil wudhu dan sholat dzuruh agar Allah Swt memberikan jalan keluar untuk masalahku ini.
“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari godaan syetan yang terkutuk, ya Allah aku tahu Engkau tidak akan memberikan cobaan kepada hamba mu melebihi kemampuannya, aku mohon ya Allah tolong berikanlah kesehatan pada ibuku, jangan kau memebrikan kelemahan di diri ibu ku ini ya Allah, Amin”.
Setelah aku selesai sholat dan berdoa aku menghampiri ibu di kamarnya
“apakah ibu sudah makan?”
“belum nak, persediaan kita sudah habis, ibu sudah tidak punya apa apa lagi” jawab ibu dengan nada pelan.
“kalau begitu aku cari makan dulu agar ibu bisa makan”
“kau mau cari kemana? Ibu sudah tidak punya uang lagi nak”
“tenang bu, aku masih memeiliki simpanan uang di celengannya. Aku pergi dulu ya bu”
Pergilah aku mencari makan siang untuk ibu ku yang sedang sakit, aku mengayuh sepdaku dengan cepatnya, aku menuju kepasar saja karena dipasar banyak makanan enak dan murah. Kini aku harus segera pulang karena aku sudah mendapatkan makanan enak untuk ibu dirumah.
“assalammualaikum?”
“waalaikumsallam”
“bu ini makannya, aku suapin ibu ya, setelah makan ibu harus istirahat”
Bulan pun beganti fajar. Kok.. kok.. kok.. kukuruyukkk… Di hari yang cerah ini aku tidak mengikuti pelajaran disekolah, aku lebih memilih menjaga dan merawat ibu dirumah, aku ingin membawa ibu kerumah sakit tapi aku tidak punya biaya, untuk makan saya susah.
Waktu pun menunjukan pukul 15.00 dan di saat itu daatnglah jessi yang di antarkan oleh pak budi. Tok..tok.. tok..
“assalammualaikum?”
“waalaikumsallam” membuka pintu.
“hai.. ra..”
“ehh jessi, tumben datng kerumahku ada apa ya jess?”
“tidak ada apa apa aku hanya ingin mampir saja, mengapa kau hari ini tidak masuk sekolah?”
“ibu ku sakit dan aku harus merawat dan menjaganya”
Ohokk..ohokk.. tiba tiba terdengan suara batukan ibu, aku dan jessi langsung menghampiri ibu ternyata ibu batuk batuk lagi dan mengeluarkan darah.
“pa budi… ayo cepat kesini” teriak jessi dr dalam kamar memanggil supir pribadinya
“ada apa non jessi?”
“tolong bawa ibunya ira masuk kemobil, kita bawa kerumah sakit”
“baiklah non”
Diangkatlah ibunya ira kedalam mobil dan dibawanya kerumah sakit. Saat di rumah sakit
“kau tidak usah memikirkan biaya rumah sakit, aku akan menelfon ibu ku untuk membantu membiayai rumah sakit”
“terima kasih banyak kau telah membantu aku dan ibuku, aku berjanji aku akan melunasi hutang ku kepada mu jess”
“tak apalah kawan, kau tak usah memikirkan itu dulu, yang kamu harus pikirkan sekarang kesembuhan ibu mu dulu”
“sekali lagi aku ucapkan terimakasih kepa mu dan kluarga mu yang tlah banyak membantu keluargaku”
“iya sama sama ra, dalam hidup ini kita harus saling membantu, kau kan adalah sahabat sejatiku jadi susah senang kita harus hadapi bersama”
Tiga minggu kemudian ibu sedik demi sedikit mulai sembuh dari penyakitnya, aku dan jessi makin erat saja persahabatannya. Kini aku tidak lagi bau, kotor dan menjijikan karena jessi mengajakku ke salon untuk memperbaiki penampilanku, dan teman temanku disekolah tidak lagi menjaukan dan mebeda bedakan aku. Sekolah ku tak sia-sia aku mendapatkan peringkat pertama dan mendapatkan beasisiwa untuk melanjutkan seklolahku. Aku kan membanggakan ibu dan sahabat sejatiku Jessi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar